ISTILAH RUMAH SUSUN SUDAH TEPAT ATAU PERLU DITINJAU KEMBALI?

0
181

Pada saat proses penyusunan UU Rusun penulis mengamati terjadi kesalahpahaman para stakeholder penyusun undang-undang tentang istilah rumah susun dimana kata rumah dalam pemahaman bangsa Indonesia adalah tempat tinggal dalam jangka waktu yang panjang untuk menunjang kehidupan individu atau keluarga, namun bila kata rumah dipadankan dengan susun sesungguhnya penyusun UU Rusun yang lama (UU 16/1985) lebih menitikberatkan pada bentuk konstruksi bangunan yaitu rumah yang bersusun-susun sehingga menjadi bangunan gedung, mari kita bandingkan dengan negara-negara anglo-saxon yang menggunakan istilah konsep strata title yang secara etimologis strata berasal dari bahasa yunani stratos yaitu lapisan, sedangkan title berasal dari prancis kuno yang berarti ijin atau hak, sehingga dalam pemahaman negara-negara anglo-saxon strata title adalah hak yang berlapis-lapis atau pada negara common law maupun continental law menggunakan istilah condominium yang secara etimologis berasal dari bahasa latin con yaitu bersama-sama dan dominia (kepemilikan) sehingga ditafsirkan kepemilikan properti secara bersama-sama, olehkarenanya persoalan istilah ini menjadi sangat mendasar dan vital karena dapat menimbulkan ambiguitas bagi orang awam bahkan juga pada tataran penyusun undang-undang yang tentu memiliki berbagai macam latar belakang dan besar kemungkinan kesalahpahaman penyusun undang-undang yang menafsirkan rumah susun adalah tempat tinggal sehingga akan mengkategorikan perkantoran murni bukan sebagai rumah susun, sehingga dalam spektrum yang lebih luas bila rumah susun ditafsirkan demikian  tidak mungkin ada rumah susun yang memiliki fungsi non-hunian kecuali campuran, namun demikian melihat praktik perkembangan bisnis properti di masyarakat seperti kondotel yaitu rumah susun yang difungsikan sebagai hotel juga seharusnya dikategorikan sebagai non-hunian mengingat tidak terdapat ciri hunian tempat tinggal pada kondotel karena tamu yang datang dan pergi rata-rata jangka waktu menginapnya bersifat short stay ataupun long-stay yang secara hukum tetap tidak mencerminkan sense of belonging atau animus manendi seseorang.

Seharusnya persoalan yang sangat mendasar ini (ambiguitas mengenai penggunaan istilah rumah susun) dapat diselesaikan dengan penggunaan istilah yang lebih tepat dan lebih umum sebagai contoh yang diusulkan penulis adalah Kepemilikan Bangunan Gedung sehingga ketika difungsikan sebagai bangunan gedung apapun (hunian, non-hunian, campuran antara hunian dan non hunian) terdapat bentuk-bentuk kepemilikan yang dimungkinan dalam bangunan gedung antara lain dapat menerapkan kepemilikan bersama (Condominium) ataupun kepemilikan tunggal oleh pemilik bangunan gedung saja sebagai properti yang disewakan, sehingga aspek kepemilikan dapat dipisahkan secara tegas dengan aspek fungsi/peruntukan. Selain itu secara sudut pandang legistis menjadi sejalan karena sebelumnya sudah terdapat undang-undang bangunan gedung yang menitikberatkan pada konstruksi fisik bangunan gedung sehingga keberadaan undang-undang kepemilikan bangunan gedung menitikberatkan pada kepemilikan dan peruntukan bangunan gedung sebagai seri perundang-undangan bangunan gedung.